Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang saya lupa siapa, berbagi sebuah foto di sosial media. Foto itu cukup populer di ranah online dan sering dijadikan materi perang gambar di berbagai forum onlinedi Facebook.
Foto yang saya maksud adalah foto seorang perempuan cantik, tampak belakang (tampak belakang kok bisa tahu kalau cantik? Iyalah, dari body-nya yang semledot sudah kelihatan, selain itu juga faktorfeeling, dan feeling lelaki soal wanita biasanya pantang salah), memakai kaos putih bertuliskan “Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh”.
Bagi saya yang asli Jawa, kata ‘cocote’ terasa sangat-sangat kasar, apalagi bila disandingkan dengan nama Mario Teguh, sosok yang selalu menebar nasihat-nasihat indah kunci sukses kehidupan.
Setega itukah orang membuat desain kaos yang mencibir orang seperti Mario Teguh?
Waktu itu saya masih suka melihat Mario Teguh menyampaikan ‘Salam Super’ di salah satu TV swasta. Itu jauh sebelum TV swasta penuh dengan berita Ahok, Jessica, atau pernikahan artis entah siapa yang saya sangat tidak peduli dengan beritanya.
Kata-kata Mario Teguh sungguh penuh makna. Sering membuat saya ternganga karena pintu sukses berkehidupan seolah-olah baru saja terbuka lebar di depan mata saya. Seperti seolah terjaga dari mimpi buruk kehidupan dan terbangun melihat matahari pagi bersinar cerah.
Maka, segeralah tertanam di kepala saya, bahwa orang ini sungguh luar biasa. Dan wajar jika kemudian saya agak kesal terhadap pembuat tulisan di kaos itu (pembuat tulisannya, bukan pemakai kaosnya).
Para motivator, tidak hanya Mario Teguh, tentu adalah orang-orang yang penuh hikmah. Pastilah sangat banyak pengalaman hidup yang sudah mereka jalani, sehingga kemudian mampu mengambil hikmah pelajarannya, menyarikannya dalam rumus kehidupan, dan kemudian menyebarkan rumus-rumus tersebut ke semua orang agar orang lain mampu menjalani hidup dengan lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia. Sungguh sangat mulia.
Namun benarkah demikian? Sekali lagi tulisan di kaos itu terasa menggelitik saya. Dalam salah satu episodenya, Mario Tegus pernah berkata di depan para pengikutnya:
“Anda pilih mana? Salah tapi cepat atau benar tapi lambat?”
Saya yang menyaksikannya di layar TV di rumah pun ikut berpikir. Dan sebelum menemukan jawabannya, Mario Teguh sudah bersabda lagi:
“Pilihlah yang salah tapi cepat. Karena cepat, walaupun salah, setidaknya anda punya waktu yang cepat juga untuk melakukan koreksi. Salam super.”
“Wah benar sekali.” Batin saya. Maka sabda itu saya pegang dan saya terapkan di pekerjaan kantor saya. Hasilnya? Saya dimarahi habis-habisan oleh atasan saya.
“Kerja itu yang bener. Kalau masih salah ya jangan diberikan ke saya. Menyesatkan itu namanya.” Teriak atasan saya.
Modiarrr….
Maka tulisan di kaos itu terasa pas benar sekarang. ‘Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh”. Apa yang disampaikan Mario Teguh adalah konsep penyederhanaan masalah. Ada kalanya benar bahwa masalah harus disederhanakan agar kita bisa lebih jelas melihat akar permasalahan dan mencari solusinya dengan tepat.
Namun apabila semua masalah diselesaikan dengan rumus yang sama, apa bedanya dengan tukang obat di pasar yang menjual minyak tangkur buaya dan bilang kalau semua penyakit, dari panu sampai gagal ginjal, dari jerawat sampai cuci darah, bisa diobati dengan minyak tangkur buaya? Preeeettt.
Bedanya hanya soal tarif. Penjual obat menjual obatnya seharga Rp. 10.000,- per botol, sedangkan motivator bisa diundang dengan harga Rp. 100.000.000,- per jam.
Mengenai tarif ini juga menggelitik saya. Jika seseorang yang meresepkan rumus-rumus sederhana (atau menyederhanakan) dalam menghadapi persoalan hidup, diambil dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, kenapa dijual dengan harga yang fantastis? Ataukah itu harga yang suka rela kita bayar hanya karena kita malas mengambil hikmah dari pengalaman kita sendiri maupun pengalaman orang-orang di sekitar kita?
Apakah setelah membayar sekian juta dan menerapkan rumus-rumus kehidupan tersebut hidup kita otomatis berubah menjadi lebih baik?
Entahlah. Kalau anda yang membaca tulisan ini ingin mendapat rumus jitu menghadapi kehidupan, silakan datang ke rumah saya. Saya akan bagikan semua rumus kehidupan saya. Gratis, dan bahkan bakal saya suguhi kopi dan tempe kemul. Apakah bisa diterapkan di kehidupan anda? Yo mbuh. 
Itulah enaknya jadi motivator. Ia bisa bekerja tanpa ada protap ataupun silabus tertentu. Ia bisa selalu berapi-api dengan minim tanggung jawab. Itu pula yang membedakan seorang motivator dengan dokter.
Motivator memberi resep dengan harga selangit tanpa ada kode etik permotivatoran, tanpa ada resiko malpraktek, tanpa ada garansi uang kembali. Artinya jika terjadi seperti yang saya alami: saya dimarahi atasan karena menerapkan sabda motivator, maka saya tidak bisa protes atau menuntut. Silakan telan sendiri risikonya. Penak to? Yo pueeeeenaaaaak
Ahhhh… tiba-tiba saya kok pengin jadi motivator ya. Dan, nama ‘Mario Nonot’ kelihatannya juga nggak jelek-jelek amat.
Menggunakan ayat atau hadis untuk menawarkan dagangan rasanya sah-sah saja asal berhati-hati dan konteksnya tepat. Saya pernah dengar cerita, ada seorang yang bersemangat menyeru untuk bertani. Katanya, bertani adalah profesi mulia sebab diperintahkan dalam Alquran. Dia lalu menyebut ayat, nisaukum hartsun lakum, fa`tu hartsakum… Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu…

 Saya baru tahu bahwa Ust. Arifin Ilham berjualan madu. Kalau paket akikah sih sudah lama saya dengar. Beberapa teman pernah pesan soalnya. Nah, kalau soal madu ini, saya baru dengar kemarin dari sebuah radio. Merk madunya kalau tak salah “az-Zikra”.
Pagi itu, terdengar suara serak Ust. Arifin mengiklankan madunya. Ia mengutip ayat lalu menjelaskan, “Madu di dalamnya terdapat obat bagi manusia… 10 persen pembelian diinfakkan untuk pesantren… insya Allah barakah…”
Iklan di situsnya lebih heboh lagi. Dalam video berdurasi 5.37 menit itu, ulasan Ust. Arifin lebih panjang. Ia mengutip ayat Alquran dan hadis, menceritakan kesukaan Nabi terhadap madu serta menyandingkan antara zikir dan madu. Untuk menguatkan pesan, Ust. Arifin mengatakan bahwa menyukai madu sama dengan menyenangi perintah Allah. “Maka saat kita minum madu berarti kita taat kepada Allah.”
Menit berikutnya video menayangkan puluhan orang berebut membeli madu. Beberapa orang di-close up untuk memberikan testimoni. Di akhir video kembali Ust. Arifin muncul dengan penawaran terakhir, “Arifin ingin semua bernilai ibadah, setiap usaha jadi ibadah, minum madu pun jadi ibadah.” Betapa indahnya. Ini pasti membuat orang-orang merasa megah.
Tiba-tiba saya teringat Siti Maryamah. Saya memfollow FB-nya atas rekomendasi seorang teman. Lucu, katanya. Benar, Mbak Siti tidak hanya lucu, tapi juga cerdas berjualan madu. Betapa berbeda iklan antara ustad dan bukan ustad. Di tangan Mbak Siti madu adalah produk biasa. Sama sekali tak ada aroma surgawi. Urusan minum madu adalah soal selera dan isi dompet. Kalau berminat ya monggo. Tidak ada urusan dengan ketaatan kepada Tuhan.
Mbak Siti rajin beriklan. Ia menjelaskan jenis madunya, spot sarangnya, vegetasinya, aromanya, rasanya, khasiatnya, bahkan nama hunter-nya. Kurang apa coba. Mbak Siti juga bermurah hati membagikan tips, menyisipkan artikel atau link. Katanya sih untuk memberi edukasi perihal permaduan. Saya tahu itu sok-sokan Mbak Siti saja, seperti ketika ia menyebut empowering segala. Mbak Siti tidak mengutip ayat atau hadis.
Menggunakan ayat atau hadis untuk menawarkan dagangan rasanya sah-sah saja asal berhati-hati dan konteksnya tepat. Saya pernah dengar cerita, ada seorang yang bersemangat menyeru untuk bertani. Katanya, bertani adalah profesi mulia sebab diperintahkan dalam Al-quran. Dia lalu menyebut ayat, nisaukum hartsun lakum, fa`tu hartsakum… Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu…
Saya berharap cerita itu hanya kelakar. Sebab kalau benar pernah terjadi, maka itu adalah contoh yang konyol tentang bagaimana orang menarik kesimpulan. Saya percaya Ust. Arifin tidak begitu dan tidak akan begitu. Dalam iklannya beliau hanya sedang menjalankan teknik pemasaran, seperti foto pada kemasan produknya yang cocok sebagai kover buku tentang doa. Sayangnya, menurut saya lho ya, caranya berlebihan dan gegabah.
Mungkin iklan memang harus berlebihan. Mencuci pakaian sambil cengar-cengir menikmati aroma detergen pasti hanya ada dalam iklan. Bahasa iklan harus efektif agar bisa jadi virus bagi akal budi. Virus itulah yang memprogram kesadaran orang lain untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan dikatakan pengiklan. Dan kita tahu bahwa term-term agama terbukti ampuh untuk memencet tombol-tombol psikologis, apalagi jika dibawakan oleh tokoh kharismatik.
Promosi berlebihan itu tampaknya berhasil. Gagasan bahwa madu adalah mukjizat, bukti ketaatan kepada Tuhan, hingga melaksanakan sunah Rasul, membuat bergalon-galon madu terjual dan tersebar ke pelosok negeri. Tapi gagasan tersebut bukan tanpa risiko.
Pertama, gagasan itu berpotensi diperlakukan sebagai kebenaran relijius. Akibatnya, orang tak perlu paham mengapa harus memerlukan sebuah barang; mengapa madu bisa menjadi obat? Madu yang bagaimana yang bisa menjadi obat? Tapi masak iya sih, minum madu (bahkan yang sasetan?) berarti kita taat kepada Allah? Terpujilah kau wahai para hunter, penjual madu, dan para agen.
Kedua, mungkin ini karena saya lagi baper, tapi rasanya kesimpulan tersebut mengandung tuduhan. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak menyukai madu tapi justru jatuh cinta pada kopi, lebih-lebih sampai buka warung kopi, bukannya warung madu, apakah mereka termasuk para pendurhaka? Nah, kan?!
Betapa dahsyat iklan para ustad. Potensi itu tak luput dari pengawasan para pemilik modal. Mereka orang-orang yang tanggap dan punya sedikit unggah-ungguh. Para ustad diminta memasarkan dagangannya. Mungkin dipikir selama ini para ustad juga berperan sebagai sales hanya saja untuk komoditas berbeda, jadi apa salahnya dititipi dagangan yang lebih konkret, toh tidak gratis.
Lalu seperti kita lihat, beberapa ustad/ustadzah akhirnya nyambi sebagai brand endorser sebuah produk. Mulai biskuit anak-anak, madu, minuman berenergi, larutan penyegar, sirup, pulsa, helm, hingga busana ditawarkan dengan jasa ustad.
Apakah ada yang salah?
Subhanallah. Jangan salah sangka, Akhi. Saya tidak sedang menyalahkan-nyalahkan ustad. Mereka orang baik. Saya cuma berjaga-jaga agar kelak tidak terkejut jika ada yang menawarkan binatang ternak sambil menyebut bahwa nama-nama mereka dijadikan nama surat dalam Alquran.
Toleransi antar umat beragama…
Kalimat klise yang indah jika benar-benar tercapai. Namun, selain indah, toleransi antar umat beragama juga bisa jadi senjata sakti. Termasuk, salah satunya, untuk menyerang balik mereka yang melarang umat dengan agama berbeda melangsungkan ibadah.
Bagi kita, masyarakat kelas menengah ngehek ini, sangat mudah sekali menuduh dan melempar hujatan kepada warga yang melakukan hal tersebut. Sayangnya, kita sering kali hanya menggunakan sisi sempit sajian beberapa media yang membuat orang akan berkomentar: “Ada orang kampungan goblok kolot yang enggak mau toleran sama umat beragama lain nih!”
Baiklah, itu memang reaksi yang sama sekali tidak salah. Tapi pertanyaannya: bagaimana jika itu terjadi di kampung Anda sendiri?
Saya punya kasus yang cukup rumit. Dan itu terjadi di dusun saya sendiri, di bilangan Jalan Kaliurang, Jogja.
Dusun kecil saya hanya berisi 20-an keluarga. Dan hampir semuanya adalah muslim. Hanya ada dua keluarga penganut agama lain. Yang pertama adalah keturunan Tionghoa yang punya toko besar tepat di pinggir Jalan Kaliurang dan yang satu rumahnya berada tepat di depan rumah saya.
Semua memang terlihat damai-damai saja pada mulanya, namun seketika jadi berubah sekitar 10 hari sebelum saya menulis catatan ini.
Putra sulung tetangga depan rumah saya meninggal dunia. Almarhum adalah pria yang sudah menikah dan menetap di Makassar. Menurut kabar dari tetangga lain, ia meninggal karena kecelakaan di Makassar sana.
Ibu si sulung tentu menangis sejadinya, dan tangisan itu tidak juga berhenti saat beberapa warga mendatangi rumahnya untuk sekadar menyiapkan peralatan yang kiranya diperlukan untuk prosesi pemakaman.
Sampai di sini semua masih biasa saja. Hingga kemudian kami warga kampung menyadari bahwa almarhum adalah seorang muslim, sementara orang tua si sulung ternyata non-muslim. Saya dan warga kampung tentu saja bingung. Tambah ruwet ketika si ibu justru meminta sesuatu kepada warga:
“Bu, Ibu, tolong dibacakan yasiin ya anak saya. Tolong ditahlilin ya anak saya…” katanya sambil nangis sesunggukan.
Ini mau dibikin gimana, ya? Masak kami bikin acara tahlilan di rumah warga yang non-muslim? Tapi, tunggu dulu, ceritanya belum selesai.
Bagi Anda yang belum pernah mengalaminya mungkin akan berpikir sederhana. Ya sudah, tinggal bikin pemakaman ala kadarnya lalu kubur saja. Beres. Duh dek, nggak semudah itu…
Terlebih ketika orang-orang penganut agama yang sama dengan keluarga depan rumah saya ini mendadak berdatangan silih berganti seperti mau briefing pawai partai. Banyak sekali sepeda motor parkir di depan rumahnya—itu artinya juga di depan rumah saya.
Mereka ini warga luar kampung. Bahkan bukan dari sekitaran kelurahan tempat kampung saya berada. Wajah-wajah mereka asing. Dan dengan segera mereka langsung mengambil alih tanggung jawab warga kampung.
Bagi saya pribadi, ya tidak masalah. Malah enak, lha wong saya tidak perlu bantu-bantu pasang teratak, bikin teh, atau menyiapkan kursi-kursi untuk pelayat.
Tapi semua jadi berubah karena orang-orang ini bertindak tanpa menyapa warga kampung, tanpa bersopan santun ke Pak RT untuk—paling tidak—memberi tahu bahwa akan ada orang luar kampung yang akan stand by di sini beberapa hari. Minimal, beramah-tamahlah dengan para pemuda.
Gerombolan ini—maaf jika saya menyebutnya begitu—justru langsung memasang semacam batasan yang membuat kami para warga kampung tidak bisa membantu tetangga kami sendiri.
Ini tentu jadi polemik yang sedikit ruwet. Jenazah yang akan dimakamkan adalah seorang muslim, namun keluarganya bukan. Masalahnya kemudian apakah cara pemakamannya mengikuti agama si jenazah atau mengikuti agama keluarga bapak ibu si jenazah? Pada titik ini ketegangan terjadi. Beberapa tokoh kampung mencoba memberi jalan tengah.
Pertama, karena yang meninggal adalah muslim maka tahlilan tetap diselenggarakan. Bukan di rumah duka, namun di masjid kampung. Toh, yang meminta diadakan tahlilan adalah ibu sang mendiang. Demikian juga soal salat jenazah, tidak akan diadakan di rumah duka, namun akan diadakan salat gaib di masjid.
Kedua, jenazah diputuskan tidak disemayamkan di makam kampung. Sebab beberapa tokoh kampung khawatir jenazah si muslim ini akan dimakamkan tidak dengan cara-cara Islam. Setelah berdebat sedikit alot dengan bapak si sulung, akhirnya kesepakatan tercapai: Almarhum dimakamkan di Makassar.
Saya yakin, jika ada media yang meliput, maka judul berita tidak akan jauh-jauh dari model yang begini: “Karena Non-Muslim, Seorang Bapak Dilarang Mengubur Jenazah Anaknya di Makam Kampung Muslim”. Dan bulian dari netizen akan diterima warga kampung saya. Apa boleh bikin, namanya juga masyarakat reaksioner.
Cerita ini sebenarnya bisa dilacak sejak tahun 1990-an. Pada mulanya, suami-istri tetangga depan rumah saya tersebut merupakan pasangan muslim. Mayoritas warga kampung bercerita begini sejak saya pindah ke kampung ini 14 tahun yang lalu.
Suatu ketika, si bapak–yang kala itu hanya bekerja serabutan–tidak bisa menebus biaya persalinan anak terakhirnya di sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Beberapa tetangga mencoba membantu, meski biayanya tetap saja terasa kelewat mahal. Mungkin karena persalinannya caesar atau kendala medis lainnya.
Namun begitu, akhirnya si bapak bisa menebus anaknya dan ajaibnya, mendadak pula mendapatkan pekerjaan baru di rumah sakit yang sama.
Kemudian semua berubah. Jika biasanya si bapak ini ikut acara tahlilan, kenduren, pengajian, atau minimal salat berjamaah di masjid sekali dua kali, setelah bekerja di rumah sakit tersebut blio tak pernah lagi muncul. Warga kampung tidak ada yang enak hati untuk bertanya langsung kepadanya tentang apa yang terjadi.
Dugaan yang muncul: Si bapak sudah pindah agama.
Saat mendengar cerita itu untuk kali pertama, rasanya perih sekali. Bukan hanya karena si bapak memutuskan pindah keyakinan. Namun, betapa berdosanya saya dan warga kampung ketika membiarkan seorang muslim harus menggadaikan agamanya hanya untuk bisa bertahan hidup.
Seiring berjalannya waktu, gelagat tak enak mulai seliweran. Tetangga depan rumah saya ini sering didatangi orang-orang luar kampung. Mereka melakukan ibadah dengan beramai-ramai dan kadang, perlu diakui, memang benar-benar mengganggu karena diselenggarakan pada jam-jam istirahat.
Beberapa tokoh kampung sempat menegur. Beribadah boleh saja, hanya saja jika ibadah tersebut bersifat publik harusnya ada izin resmi dari perangkat desa setempat. Apalagi hampir semua jamaah adalah bukan warga asli. Di manapun Anda tinggal, sikap tersebut jelas bermain api namanya.
Hal inilah yang kerap dilewatkan oleh kita. Dengan dalih toleransi, kita kadang terlalu fokus bahwa ibadah adalah hak seluruh umat beragama.
Betul memang, sebab ibadah bersifat privat. Salat lima waktu, misalnya. Itu adalah hak dan sifatnya privat, jadi potensi mengganggu orang lain sangat minim. Namun semua bakal berbeda jika ibadah tersebut melibatkan massa yang cukup banyak. Sifat ibadah yang tadinya privat, berubah jadi publik.
Salat berjamaah lima waktu tapi diadakan di alun-alun dengan jumlah jamaah ratusan, ini kan tak sepele. Harus ada proses dan persiapan yang berbeda. Maka hal ini bukan lagi mengenai boleh atau tidaknya ibadah, namun soal penghormatan terhadap ruang publik dan hak orang lain.
Di ruang privat, Anda boleh saja berbuat apa saja. Bahkan dari maksiat sampai ibadah semalam suntuk. Namun, jika Anda melakukannya di ruang publik, kesalahannya bukan terletak di aktivitasnya, melainkan kepada pilihan tempat Anda melakukan aktivitas tersebut.
Pilihan ruang publik ini pun juga bisa beragam. Anda boleh saja mabuk-mabukan di ruang publik seperti bar, kafe, atau tempat-tempat yang didesain khusus untuk itu. Namun jika Anda melakukannya di sekitaran tempat ibadah, jangan mengeluh jika Anda dipentungi orang bersorban.
Pun dengan suara azan. Tak ada masalah maka jika azan diperdengarkan di lingkungan muslim. Namun, lagi-lagi, akan berbeda soal jika suara azan digaungkan di samping kamar tidur Kim Jong Un di Korea Utara sana. Tubuh Anda mungkin akan diikat di peluru kendali olehnya karena azan dirasa begitu berisik.
Oke, kembali ke pokok cerita. Setelah datang teguran dari para tokoh kampung tadi, aktivitas ibadah di rumah itu berpindah ke tempat ibadah resmi.
Banyak hal yang memang berubah ketika si bapak berpindah keyakinan. Itulah yang membuat kami warga kampung semakin berjarak dan saling tidak enak. Tentu saja ini jelas bukan representasi dari agama si bapak.
Saya punya contoh lain. Masih ingat dengan tetangga saya yang Tionghoa tadi? Kebetulan ia seiman dengan si bapak depan rumah saya ini.
Berbeda dari si bapak tetangga depan rumah saya, si Tionghoa ini begitu dekat dengan warga. Ia adalah seorang penganut agama yang taat. Bisa dibilang ia adalah orang saleh. Anehnya, orang yang bukan warga kampung saya malah kerap menyangka si Tionghoa ini adalah seorang muslim. Lho?
Sebab ia tak pernah sungkan (meski tak diundang, apalagi dipaksa) untuk ikut acara kumpulan kampung seperti arisan, tahlilan, atau kerja bakti pembangunan masjid. Si Tionghoa ini memang tidak akan ikut membaca alfatihah dan sebagainya saat doa acara, namun kehadirannya adalah sebuah oase.
Si Tionghoa paham: Ia haruslah menghormati ruang publik, menghormati publik. Dan jika ia menghormati publik, publik akan balik menghormati dan menjaganya. Tidak hanya bentuk fisik orangnya, melainkan juga ikut menjaga kehormatan agamanya.
Kerelaannya hadir adalah bukti bahwa toleransi antar umat beragama memang beneran indah dan unik karena begitu langka.
Sampai di sini, kita mestinya tahu bahwa jika masih ada ketegangan yang terjadi antar umat beragama di negeri ini, itu semua bukan pembelaan terhadap agama, keyakinan atau keimanan. Semua hanya soal perebutan eksistensi di ruang publik, tentang bagaimana bendera dominasi dikibarkan di area-area strategis. Tidak di Tolikara, tidak di Tanjungbalai.
Jika ada yang ngotot bilang alasannya adalah untuk membela Tuhan, tertawakan saja. Tanyakan kepada orang itu: Memangnya, Anda siapanya Tuhan sih? Pengacara-Nya?
Saya mengingat guyonan Pidi Baiq saat itu untuk menggambarkan sisi lain dari Bandung.
Jadi, waktu itu ayah (panggilan Pidi Baiq) lagi bawa mobil. Orang-orang Bandung di jalan kemudian menyetopnya karena plat B yang tertera di mobil tersebut. Mereka menduga ia bagian dari The Jak. Ayah menjawab: “B kan Bandung, Persib aja belakangnya ‘B’, masa iya, Persid gitu?”
Pidi Baiq bercerita tentang Bandung tahun 2013, setelah kisruh antara dua klub sepak bola antara Jakarta dan Bandung. Jalanan sangat seram, bahkan untuk warga Bandung sendiri. Pemerintah pun, tentu saja, ikutan membabat.
Tak lama kemudian, Bandung juga mengalami perasaan takut yang serupa. Kali ini gara-gara geng motor. Pemerintah Kota bertindak lebih keras kali ini: memberlakukan jam malam.
Saya sempat merasa pusing untuk nonbar saat itu karena semua venue menuruti anjuran untuk tutup setelah jam tengah malam. Atau terkekeh saat Sober, Maja, dan tempat dugem ditutup setelah lewat tengah malam sehingga gadis-gadis cantik harus pulang seperti Cinderella. Bahkan, Indomaret dan Alfamart tutup pada tengah malam.
Anak-anak muda di kota kembang ini marah dan menuntut walikota untuk tak mengekang. Tak sepatutnya menebar teror menjadi kian mencekam.
Kang Emil yang termasyhur itu, mengatakan bahwa kebijakan untuk menggerakkan aparat bukan dairnya. Saya sendiri tak pernah tahu (dan kekurangan data juga) apakah itu benar adanya. Namun yang jelas, kota ini kemudian menjadi aman.
Itu adalah sekelumit dari wajah lainnya kota Bandung. Kota yang didatangi tamu dari negeri lo-gue, dan pelan-pelan mulai terbiasa menggunakan kata lo-gue layaknya orang Jakarta namun tetap menggunakan kata “urang-maneh” kepada sesamanya.
Kota yang, setelah rangkaian kejadian di masa lampau itu, bergerak ke arah yang lebih baik. Kota yang kembali berhasil menyajikan wajah someah warga Bandung, yang dulu sempat terganti dengan ketakutan dan kebencian.
Bandung pada malam hari, pelan-pelan tapi pasti, menjadi aman kembali. Sepasang kekasih bisa berpelukan dan cerita banyak hal saat di jalan di motor sang pacarnya yang berplat ‘B’. Dan begitu pula untuk mereka yang harus lembur di kantornya. Juga terhadap bujang galau dan gadis-cantik-tapi-kesepian bisa mencari jodoh mereka di Maja.
Bandung memang kota yang mudah mencinta–selain Malang, ada kota lain di mana Anda bisa pelukan tanpa harus keringatan di jalanan?–sehingga saat dirasa semua aman, mereka bisa mencinta kota ini lagi.
Kota ini akrab dengan sebutan-sebutan indah ini: orang-orang Belanda menyamakannya dengan Paris sehingga disebut “Paris van Java”, orang-orang kota ini mudah menemukan bunga dengan harga murah sehingga cinta bertebaran di “Kota Kembang”.
Kota ini juga, baru-baru mendaku sebagai kota yang ramah terhadap HAM. Setelah kesuksesan luar biasa Konferensi Asia Afrika tengah tahun lalu, di akhir tahun lalu Ridwan Kamil mengatakan inginnya ini.
Ridwan Kamil berhasil membawa ingin dan khayal manusia Bandung terhadap kotanya yang indah itu: bergandengan dengan para pendatang, tapi tetap dengan karakternya sendiri. Lambat laun, dari kebesaran hati orang-orang Bandung menerima para tamu, mereka juga kawin-mawin pikiran dengan orang-orang lain.
Hidup dalam paradigma yang beragam dan tetap menghargai keberagaman. Pemandangan bahwa Lembang macet karena turis juga tak terlalu dirisaukan lagi. Mereka, tanpa mengeluh secara berlebih, mengincar hari-hari kerja untuk pergi ke Lembang.
Bandung kemudian tampak toleran. Tak hanya kehidupan, namun juga kegiatan literasi seperti seminar atau bedah buku. Mulai dari seminar MEA, hingga seminar “Kaya mengimpor produk China” diakomodir oleh Bandung. Pun dengan acara Himpunan Mahasiswa/Badan Eksekutif Mahasiswa/Unit Kegiatan Mahasiswa yang menggiatkan kegiatan literasi ini. Bahkan, dirasa melebihi ekspektasi.
Bandung memberikan pula ruang untuk Aksi Kamisan.
Tak tanggung-tanggung, Ridwan Kamil bahkan menginisiasi Taman Perpustakaan bagi warga Bandung. Ia juga membiarkan mereka berorasi di depan Gedung Sate dalam Aksi Kamisan. Hal tersebut sangat spesial, karena dilaksanakan di ikon kota Bandung. Mencerminkan bahwa Bandung ingin bebas secara pemikiran dan berusaha hidup menjadi kota yang menjunjung tinggi HAM.
Hingga turbulensi kemudian terjadi. Muncul rasa takut kembali. Bandung ingin menjadi ideal namun gagal.
Dalam kegiatan monolog Tan Malaka di IFI Bandung, misalnya, diprotes dan ingin diancam untuk dihentikan secara paksa FPI karena terpancing dengan isu komunis yang sedang panas-panasnya. Ini bukan kali sekian bahwa Bandung mudah terpancing, tentu saja.
Sebelum isu komunis ini menjadi sungguh seksi, sebuah kampus di Bandung membentangkan spanduk anti-LGBT yang diinisiasi oleh mahasiswanya. Sebelumnya lagi, tukang ojek di Bandung ikut sinis seperti orang Jakarta sinis kepada ojek online yang saya tahu dari berita-berita tentang ibukota.
Tampak ikhtiar ini dimunculkan oleh mereka yang cemburu dan tak ingin Bandung berubah. Mereka yang juga menjadi bagian dari Bandung.
Sebagaimana dikutip dari Pikiran Rakyat, seorang panitia pentas mononlog Tan Malaka tersebut menyebutkan bahwa FPI bahkan belum membaca namun sudah ingin menutup acara ini. Aksi ini baru mereda saat Ridwan Kamil mengabarkan bahwa ia akan datang dalam acara tersebut.
Saya sadar sekarang: ini adalah perang. Terutama saat kabar kegiatan literasi lagi-lagi dihentikan. Sialnya, bukan dari warga. Ia datang bagian yang dianggap menjadi representatif dari Pemerintah Bandung sendiri. Dari Kodam SIliwangi.
Yang menyedihkan dari itu adalah rilis yang disebarkan oleh Kodam Siliwangi. Saya betul-betul ngeri bahwa komunitas liteasi seperti Perpustakaan Jalanan bisa disamakan dengan Komunitas Geng Motor dalam bagian “Komunitas lain-lain” yang muncul di rilis tersebut.
Mengkategorikan kegiatan mereka sebagai kegiatan mencurigakan, dan paling mengagetkan, ada kalimat bahwa “sudah lewat waktunya”. Bahkan, sebagaimana yang dilaporkan dari Rimanews, ada aksi pukul di sana.
Apakah itu berarti Bandung kembali ke awal lagi di mana teror dan ketakutan itu muncul?
Setelah saya rasa menahun Bandung telah membaik, saya merasa sedih. Merasa tahun-tahun bahagia rupanya atas kebebasan berekspresi dan keamanan, namun ternyata kota ini kembali lagi ke awal. Tentu sangat mengibakan untuk sebuah kota yang mendaku sebagai Kota HAM.
Setelah sangat jauh berpikir, saya kemudian ingin mengatakan sesuatu kepada Bandung: setelah kawin-mawin pikiran ini, mengapa kini Bandung (pada malam hari) kian mencekam seperti Gotham tanpa Batman?
Jika kita bermaksud membicarakan sepak bola Indonesia, tentu nama Surabaya tidak bisa di anggap lalu.
Surabaya seperti sedikit kota lain di Indonesia: Semarang, Solo, Jogja, Malang, Jakarta, dan Bandung, merupakan kota dengan kesebelasan yang mencolok, juga memiliki sejarah panjang mengenai itu. Bahkan pendukung kesebelasan atau suporter dari kota-kota tersebut juga dianggap sebagai supporter penting.
Kita paham betul, di Surabaya ada Bonek, di Solo ada Pasoepati, Di Jakarta ada The Jack, di Bandung ada Bobotoh atau Viking, di Semarang ada Panser Biru, dan lain-lain, yang siap memenuhi tribun manapun ketika kesebelasan yang didukungnya merumput.
Namun, tahukah Anda, pada masa revolusi fisik dulu, Surabaya pernah memiliki kesebelasan ‘dagelan’ yang digagas oleh tokoh-tokoh pergerakan lintas etnis? Begini kisahnya.
Dikisahkan, pemerintah kolonial Belanda memiliki aturan khusus bagi warga yang masuk kategoriVreemde Oosterlingen atau yang sering kita artikan dengan ‘Timur Asing’. Warga Timur Asing terdiri dari etnis Tionghoa, Arab, India, dan lainnya yang merupakan ‘kasta’ kedua setelah bangsa Eropa, atau satu tingkat di atas pribumi warga asli Indonesia yang oleh pihak kolonial disebut denganinlander, kelompok terendah dalam struktur masyarakat bentukan Kolonial. 
Khusus untuk kelompok Vreemde Oosterlingen, berlaku peraturan yang cukup tegas dari pemerintah kolonial. Peraturan tersebut dikenal dengan nama; Wijkenstelsel dan Passenstelsel. Termasuk kebijakan-kebijakan untuk memuluskan upaya politik belah bambu mereka, divide et impera.
Wijkenstelsel merupakan peraturan yang menginstruksikan bahwa orang-orang timur asing harus bertempat tinggal pada wilayah tertentu sesuai dengan ras dan komunitasnya. SedangkanPassenstelsel, merupakan peraturan surat jalan.
Maksudnya, jika orang-orang Timur Asing bermaksud keluar dari kampung tempat tinggalnya, maka harus lebih dulu ambil izin kepada pihak kolonial untuk mendapatkan surat jalan.
Untuk memecah sekat yang ditimbulkan dari kebijakan rasialis Wijkenstelsel dan Passenstelseltersebut, tokoh-tokoh pergerakan saat itu terus saja melakukan kontak lintas etnis. Bertemu, berunding, dan sebagainya.
Nah, dari salah satu perundingan itu, lahirlah Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), sebuah klub sepakbola yang didirikan untuk menandingi klub sepakbola bentukan Belanda saat itu, yang diberi nama Soerabajasche Voetbal Bond (SVB).
Para anggotanya terdiri dari orang-orang Belanda dan beberapa etnis Tionghoa yang tergabung dalam aktivis Chung Hua Hui, sebuah organisasi masyarakat Tionghoa yang pro-Belanda.
Sepakbola saat itu juga sudah menjadi tontonan bergengsi bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Sehingga bisa dipastikan setiap ada turnamen sepak bola, masyarakat akan berkumpul, tumplek blekmemenuhi lapangan.
Pada mulanya ide pendirian organisasi sepak bola SIVB ini berasal dari kawan-kawan Tionghoa kota Surabaya yang tergabung dalam Partai Tionghoa Indonesia, seperti Koen Hian dan Boen Liang. Maksud baik ini kemudian di sambut oleh tokoh-tokoh etnis lain. Sehingga anggotanya lintas etnis, Tionghua, Arab, Jawa, Ambon dan lain-lain. 
Pertandingan yang diselenggarakan oleh SIVB adalah antara Partai Tionghoa Indonesia (PTI) melawan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) PBI–sebuah organisasi massa di kota Surabaya yang didirikan oleh Dr. Soetomo.
Sepak bola ‘olok-olok’ tersebut diikuti antara lain oleh Liem Koen Hian, Boen Liang, Alamoedi, A.R. Baswedan (Pendiri Partai Arab Indonesia, PAI), Sijaranamual, Kwee Thiam Tjing, dan lain-lain dari pihak PBI. Sedangkan dari pihak PTI, ada nama  Radjamin Nasoetion, Roeslan Wongsokoesoemo, Gondo, Tjindarboemi, Soedirman, Pamoedji. Pertandingan dilakukan di lapangan Koblen.
Pertandingan itu terbilang sukses, karena berhasil menyedot ribuan penonton dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan Eropa sendiri. Dan selepas pertandingan, penonton disuguhi acara pasar malam di tempat yang sama. Pasar malam tersebut juga diadakan untuk menyaingi acara tahunan orang-orang Belanda di kota Surabaya, yaitu pameran yang diadakan di Jaarmarkt yang digelar pada waktu yang sama.
Karena pertandingan tersebut hanya pertandingan olok-olok, maka selama pertandingan berlangsung para penonton disuguhi tontonan yang lucu dan membuat terpingkal-pingkal, sebagaimana dilukiskan oleh Kwee Thiam Tjing berikut:
“Itu kumpulan perut gendut yang lari tidak karuan arahnya, yang dengan napas kempas-kempis masih tidak mampu menggiring bola yang menggelinding berlahan di depannya, yang tiga kali tendangan mesti dua kali luput darinya, malah ada yang sekali tendang luput bolanya, sebaliknya badannya yang gemuk bundar “kantep” di bokongnya. Di pihak kami yang ikut main ada Koen Hian, Boen Liang, Alamoedi, Baswedan, Sijaranamual (Joenoes) dengan dibantu oleh pemain-pemain lain.
Pertandingan yang sangat tidak serius tersebut berhasil menggalang solidaritas sesama anak bangsa, tanpa memandang latar belakang etnis, untuk melawan orang-orang Eropa di kota tersebut secara halus. Ribuan penduduk Bumiputra, orang-orang Arab, dan orang-orang Tionghoa berkumpul di lapangan Koblen untuk menonton pertandingan bola dagelan tersebut, dilanjutkan dengan menonton pasar malam yang berlangsung selama beberapa hari.”
Kwee Thiam Tjing secara olok-olok pula menyebut pertandingan bola tersebut sebagai “voormannen elf’tal”: “pertandingan kesebelasan orang-orang terkemuka”.
Sebenarnya masih banyak lagi cerita serupa, pejuang lintas etnis yang turut membantu perjuangan kemerdekaan. Seperti pasukan sekutu dari India, yang kerana kesamaan ideologi, kepercayaan, dankekarepan, mereka disersi kemudian bergabung dengan barisan pejuang Indonesia.
Juga kemurahan hati saudagar Tionghua di Rengasdenglok yang sudi menerima pemuda pergerakan yang mencuri seniornya dari Jakarta, untuk merumuskan proklamasi kemerdekaan. Atau yang mungkin paling kita ingat, salah satu Petinggi Dai Nippon yang memfasilitasi pembacaan naskah proklamasi di serambi rumahnya. 
Nah, ndilalah kersaning Allah, baru saja tepat di hari kemerdekaan, gabungan atlet lintas-etnis Ganda campuran Indonesia; Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir juga menang tanding bulu tangkis tingkat dunia, meraih medali emas Olimpiade Rio 2016, mengharumkan nama bangsa.
Tentu kita bangga, senang, sebab itu penting kiranya kisah-kisah heroik lintas etnis ini perlu untuk terus diulang-ceritakan, mengingat gejala sikap rasialis yang mulai marak belakangan ini, upaya-upaya menyudutkan satu etnis untuk mengunggulkan etnis lain, atau mengorbankan satu etnis untuk menjadi kambing hitam atas segala-gala petaka.

"Kalau memang waliyullah itu benar-benar sakti," tanya Ujang kepada Haji Yunus, "mengapa mereka diam saja melihat kezaliman yang terjadi di dunia saat ini?"
Haji Yunus, yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual martabak, tersenyum mendengar 'gugatan' muridnya ini.
"Ayolah Wak Haji," Ujang terus mengeluarkan isi hatinya, "kenapa para Wali diam saja, bahkan banyak yang menyembunyikan jati dirinya sehingga orang-orang sekitarnya terus meremehkan mereka sementara ketidakadilan terus berlangsung di depan mata para waliyullah. Wak Haji malah terus jualan martabak!"
"Ujang, dengarkan kisah ini ya..." Seperti biasa Haji Yunus lebih sering menjawab lewat berbagai kisah dan tamsil.
Ujang mengatur posisi duduknya di dalam rumah kontrakan Haji Yunus dan bersiap mendengar kisah yang akan diceritakan gurunya.
"Pernah pada suatu masa, satu-satunya mesin untuk pengolah gandum yang dimiliki penduduk desa, rusak. Sementara itu hasil gandum bertumpuk-tumpuk di dalam gudang menunggu untuk dibuat menjadi tepung. Kalau tidak seegra diolah maka gandum akan rusak dan sia-sialah kerja penduduk desa selama ini."
"Situasi mencekam, karena sudah hari ketiga, dan mesin belum juga berfungsi. Penduduk desa mendatangi seorang sufi yang tinggal di sudut desa itu sendirian. Mereka memelas agar sang sufi turun tangan mengatasi persoalan ini. Semula sang sufi enggan meluluskan permintaan ini, namun tangisan seluruh penduduk desa yang duduk bersimpuh di depan gubuk sang sufi meluluhkan hatinya."
Sang Sufi kemudian berkata: "Pulanglah kalian semua, besok semuanya sudah beres."
"Penduduk desa pulang dan tidur nyenyak menanti apa yang terjadi esok pagi. Malam itu, sang sufi mengeluarkan kesaktiannya. Puluhan gudang berisi gandum dia olah sendiri dengan tangannya. Tubuhnya melesat melebihi kecepatan mesin. Semuanya beres dalam semalam seperti yang dia sampaikan."
"Selamatlah penduduk satu kampung, dan mereka bisa menjual tepung sebagai bekal untuk satu tahun ke depan."
Ujang terlihat berseri mukanya. Sufi seperti inilah yang ia harapkan.
Haji Yunus tersenyum melanjutkan kisahnya: "Beberapa tahun kemudian, menjelang wafatnya, sang sufi kerap kali tubuhnya menggelinding jatuh dari tikar yang menjadi alas tidurnya. Beliau kemudian menangis dan meratap: "ampuni aku Ya Allah"
Kejadian itu berlangsung terus sampai 3 hari. Seorang muridnya bertanya: "apa yang terjadi pak yai?"
Sufi itu menjawab dengan linangan air mata: "Ingatkah engkau peristiwa pengolahan gandum beberapa tahun silam ketika aku menolong penduduk desa ini? Aku memang turun tangan tidak tega melihat kesengsaraan penduduk desa, ku gunakan ilmu yang Allah berikan padaku untuk menolong mereka, namun aku melupakan satu hal. Aku khilaf tidak bertanya memohon ijin Allah terlebih dahulu sebelum menolong penduduk desa. Dan kini di akhir hayatku, Allah murka dan terus bertanya padaku: 'siapa yang memberi ijin kamu ikut campur terhadap nasib penduduk desa itu? Apakah kamu merasa lebih menyayangi penduduk desa itu ketimbang Aku sehingga berani-beraninya tanpa ijin dari Ku mengintervensi semua proses yang tengah berjalan? Tahu apa kamu terhadap skenarioKu akan penduduk desa itu?'"
"Itulah sebabnya aku terus memohon belas kasihan Allah mengampuni tindakanku yang telah menolong penduduk desa tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada Allah."
Ujang mendadak tercekat. Tidak menyangka ujung kisahnya akan seperti ini.
Haji Yunus kemudian berkata santai sambil membereskan sarungnya: "Para kekasih Allah itu tidak akan bergerak tanpa perintah dan ijinNya. Skenario Allah melampaui semua pengetahuan mereka. Kita tidak pernah tahu apa kasih sayang Allah dan pelajaran apa yang hendak diberikan kepada penduduk desa itu sebelum sang sufi ikut campur. Allah membiarkan kekasihNya mengeluarkan ilmuNya menolong penduduk desa, namun Allah mencatat itu sebagai sebuah 'ketidaksopanan' karena dilakukan tanpa ijinNya."
Ujang menundukkan kepala. Air mata menetes ke pipinya. Ujang menyesal telah bertindak tidak sopan menggugat peranan para kekasih Allah karena sesungguhnya diam atau bergeraknya para kekasih Allah semata-mata sesuai perintah dan ijinNya semata.
Haji Yunus menutup obrolan dengan berpesan: "Ilmu dari Allah tidak perlu dipamer-pamerkan atau dibangga-banggakan, lha wong menggunakannya dengan niat mulia tapi tanpa ijin Allah saja bisa dipermasalahkan kok. Kamu sangka saya mau terus menerus menjadi tukang martabak di depan Polsek Ciputat? Kamu kira saya tidak sedih melihat berbagai kezaliman di dunia ini? Tapi belum ada perintah dan ijin Allah untuk saya bergerak. Saya berbaik sangka pada semua skenario ilahi. Makanya saya hanya diam, sesuai ijin Allah".
Tabik,
Nadirsyah Hosen
*inginku tengah melebur dalam ijinMu*

         Mahasiswa sangat identik dengan kata “almamater”. Ketika seorang siswa telah memasuki jenjang perguruan tinggi, Ia akan disodorkan dengan sebuah jas yang dinamakan jas almamater disebuah Universitas. Seiring berjalannya waktu, banyak kegiatan yang akan diikuti olehnya dengan menggunakan jas kebesaran tersebut. Yang menjadi pertanyaan besar baginya, apakah Ia mengerti apa itu “almamater” dan makna apa yang terkandung di dalamnya? 

             Jika kita melihat secara arti katanya, “alma mater”, atau kadang-kadang ditulis tersambung sebagai “almamater”, adalah istilah dalam bahasa Latin yang secara harafiah berarti “ibu susuan”. Penggunaan istilah ini populer di kalangan akademik/pendidikan untuk menyebut perguruan tempat seseorang menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. Walaupun sering dipakai di kalangan pendidikan tinggi, istilah ini sebetulnya pernah dipakai pada masa Romawi Kuno untuk menyebut dewi ibu. Kristen Eropa pada Abad Pertengahan, menggunakan istilah alma mater untuk merujuk Perawan Maria. Ketika kita mendengar kata ibu, Ia adalah sesosok yang melahirkan, merawat, dan menyayangi anaknya hingga tumbuh besar. Dapat kita telaah, almamater yang kita junjung adalah universitas kita sendiri, dimana Ialah yang akan merawat dan membimbing mahasiswa selayaknya seorang ibu, sehingga nantinya akan melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang tangguh berjiwa kritis, ilmiah dan akademis. Sehingga, penggunaan istilah ini populer di kalangan akademik/pendidikan untuk menyebut perguruan tempat seseorang menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. Maka dari itu, sebagai mahasiswa hendaknya benar-benar berbhakti dan berbangga hati menjadi bagian almamater dengan mendukung dan menjalankan segala kebijakan perguruan tinggi serta menjunjung tinggi nama baik almamater. Dari pengertian tersebut, akan muncul berbagai konsepsi almamater yang disebut “wawasan almamater”. 

          Wawasan tersebut tercermin dalam suatu anggapan-anggapan bahwa, almamater merupakan jiwa mahasiswa dan seluruh civitas akademika yang bersifat manunggal terhadap alamater, bersifat ilmiah, kritis dan akademis dalam hal yang menyangkut kemahasiswaan, serta berbakti pada universitas melalui almamater mengabdi pada rakyat. Di seluruh Universitas, almamater merupakan sebuah kebanggaan yang munculnya dari suatu kekuatan mahasiswa yang bersifat kritis, ilmiah, dan akademis. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri ketika mahasiswa turun ke jalan melakukan kritisi terhadap kebijakan pemerintah atau suatu kalangan, mereka dengan bangganya panas-panasan menggunakan jas almamater kebanggaan mereka demi dapat membela kaum tertindas terutama rakyat biasa. Selain itu, almamater merupakan suatu status formal  bagi mahasiswa ketika mereka mengikuti sebuah acara seminar yang dilakukan oleh berbagai instansi.


          Almamater juga memberikan status peran akademis kepada para mahasiswa yang membela perguruan tingginya dalam hal pekan ilmiah, perlombaan antar institusi, debat publik, dan kegiatan akademis lainnya. Oleh karena itu, dari kebanggaan mahasiswa terhadap almamaternya akan menumbuhkan jiwa kekompakkan, nasionalisme, tanggung jawab, serta profesionalisme tinggi.
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net